Usaha Kekalkan Adat Budaya Perlu Diteruskan Oleh: Arshad Hussin

Friday, July 20, 2007      0 komentar

TAWAU (Merotai): Usaha mengekalkan adat dan budaya pelbagai suku kaum di negara ini khususnya di kawasan-kawasan luar bandar perlu dipertahan serta dipulihara sebagai landasan mencerna penerapan budi bahasa dan nilai-nilai murni yang menjadi pegangan kuat sesebuah masyarakat atau etnik negeri ini.

Negeri Sabah yang mempunyai bilangan lebih dua juta penduduk memiliki lebih tiga puluh etnik mampu menyumbang kearah melestarikan usaha kerajaan memperkasa bangsa dan negara melalui kekuatan kebudayaan pelbagai kaumnya.

Sesunggunya kepelbagaian kebudayaan yang dimiliki dan diwarisi suku kaum di Sabah adalah pancawarna yang dapat menambat hati setiap individu mendekati serta mengkaji nilai-nilai budaya bangsa yang terdapat di seluruh pelusuk negeri ini.

Menteri Di Jabatan Ketua Menteri, Datuk Haji Nasir Tun Sakaran,berkata di antara kepelbagaian adat dan budaya yang miliki suku kaum di Sabah menjadi satu ciri kekuatan yang tidak terdapat di negara lain.

Selain itu katanya, bagi mengwujudkan masyarakat penyayang yang menganjur budaya saying menyayangi yakni system sosial yang mementingkan masyarakat lebih daripada diri sendiri dengan kebajikan insane tidak hanya berkisar kepada negara atau individu tetapi merangkumi sekeliling system kekeluargaan yang kukuh.

Wawasan 2020 yang dilancar kerajaan merupakan matlamat menuju kea rah negara maju mengikut acuan sendiri dengan mengenal pasti agenda sosial perlu diketengahkan seperti yang terkandung dalam ketujuh cabaran wawasan 2020,” kata Nasir.

Nasir berkata demikian sempena merasmikan Upacara Pasak Indong majlis Khenduri Adat Kaum Tidong di Kuala Merotai.

Majlis anjuran Jabatan Kebudayaan,Kesenian dan Warisan Negeri Sabah (JKKWNS) dengan kerjasama Majlis Perbandaran Tawau (MPT) dan Persatuan Tidong Sabah (PTS) itu dihadirisama Ahli Parlimen Libaran merangkap Presiden Persatuan Tidong Sabah, Datuk Juslie Ajirol, Pengarah Kebudayaan dan Kesenian Jabatan Kebudayaan,Kesenian dan Warisan Sabah, Mesran Mohd Yusop, wakil Presiden Majlis Perbandaran tawau, Halimah Yahya serta kakitangan kerajaan negeri dan persekutuan.

Antara lain objektif utama upacara yang diselenggara bersama JKKW negeri Sabah dan MPT serta Persatuan Tidong Sabah itu ingin mengekalkan tradisi khenduri adapt di kalangan masyarakat setempat, memupuk semangat gotong-royong,muafakat dan kerjasama,mengwujud hubungan baik antara pemimpin dan rakyat melalui aktiviti senibudaya, menjalin hubungan dan interaksi di kalangan masyarakat berbilang etnik kea rah melahirkan masyarakat penyayang,bersatupadu serta memastikan senibudaya dan nilai murni warisan bangsa dapat dipertahankan,dipulihara dan didokumentasi sebagai bahan rujukan dan sumber ilmu.

Pasak Indong atau naik buai yang diamalkan suku kaum Tidong di Sabah merupakan istiadat khusus bagi anak yang baru dilahirkan yang akan dilangsungkan semasa bayi berumur tujuh hari hingga 27 hati atau tiga bulan.

Upacara itu akan dimulakan dengan ibu bayi di bawa turun menjejaki tanah sebagai tanda tempoh berpantang sudah berakhir dan si ibu akan melalui beberapa upacara seperti memijak batu asah dan meminum air putih yang disediakna mak bidan.

Bagi memulakan upacara tersebut bayi akan diletakkan di atas dulang yang dialas dengan `Gabol Lipet Raja Bersila iaitu tujuh helai kain sarung berlipat sebagai alas bayi yang diletakkan dalam dulang.

Upacara akan dimulakan oleh mak bidang berserta tujuh orang wanita tua memasukkan bayi bersama sehelai kain Gabol Lipet Raja Bersila di dalam buaian dan dikeluarkan sambil diletakkan di atas dulang sehingga berulang tujuh kali dibantu secara bergilir tujuh orang wanita tua sehingga helaian terakhir.

Selain itu upacara keagamaan Berzanji dan doa selamat diikuti upacara `Gunting Abuk ‘ ( gunting rambut akan diterusnkan sementara bayi yang dilahirkan pada bulan Safar akan menjalankan upacara `Penimbangan’ ( bayi ditimbang dengan pelbagai jenis buah-buahan dan kuih-muih tradisi suku kaum Tidong).

Khenduri Adat yang menjadi tradisi dan amalan dalam masyarakat dan suku kaum di Sabah kian pupus dan terpinggir akibat pengaruh kehidupan moden yang melanda masyarakat hari ini seharusnya dipulihara dan dihidupkan kembali sebagai wadah penerapan nilai-nilai budi dan daya (budaya) dikalangan rakyat sekaligus sebagai landasan mengwujudkan semangat muafakat,kerjasama dan toleransi kaum melalui amalan bergotong royong kea rah perpaduan kaum.

PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM SUKU TIDUNG

Friday, July 6, 2007      4 komentar

Pada abad 14 Masehi mulailah berkembang agama Islam di wilayah Kalimantan yang dibawa oleh salah satu utusan dari tanah suci Makkah yang oleh masyarakat setempat disebut Wali Allah atau utusan Allah yang bernama syarif Marzin Al'Marzaq membawa kitab suci Al'quran, keris serta sebuah tongkat.

Dalam masa perjalanannya mengembangkan ajaran Islam ia menikah dengan seorang gadis asli Kalimantan yang kemudian memeluk Agama Islam dan mendapatkan tiga orng putra yang bernama Syarif Pengeran, syarif Muda dan Syarif Hamzah Al Marjaq.

Untuk mengembangkan Agama Islam Syarif Marzin Al'Marjaq melakukan perjalanan dakwah sehingga ia meninggalkan anak dan istrinya. Sehingga yang melanjutkan tugasnya mengembangkan siar Islam di pulau Kalimantan adalah anaknya yang bernama Syarif Hamzah Al Marzaq. Daerah yang pertama kali dikembangkannya adalah daerah Sesayap (Kab.Bulungan). Tidak lama kemudian menyebar kewilayah sekitarnya sampai ke pulau Tarakan. Dalam masa perjalanan dakwanya Syarif Hamzah Al'Marzaq mendapat tantangan dari sekolompok masyarakat yang tidak menerima ajaran yang dibawanya karena ajaran agama Islam menjadi penghalang bagi mereka untuk membuat maksiat. Sehingga mereka memenggal kepala Syarif Hamzah Al'Marzaq diatas sebuah batang. Tapi anehnya batang yang membawa kepala Syarif Hamzah Al'Marzaq tersebut hanyut dengan melawan arus hingga ke pulau Tarakan dan terdampar hingga kesungai Pamusian.

Mungkin mukjizat dari Allah SWT kepala yang terpenggal itu mengeluarkan darah berwarna putih, ketika akan dikebumikan oleh masyarakat badannya yang masih ada di Sesayap secara aneh tiba-tiba kembali tersambung dan jenazahnya kemudian dimakamkan dipinggiran sungai Pamusian.

tidak lama kemudian makamnya berpindah sendiri dimana letak awal kuburannya berada dipinggiran sungai Pamusian namun kuburan tersebut berpindah tempat seperti yang ada terletak sekarang ini. Karena keajaiban tadi masyarakat Tarakan menganggap kuburan itu sebagai Kuburan Keramat. Sehingga dari dulu hingga sekarang masyarakat berdatangan kesana untuk menyampaikan niatnya, baik yang beragama Islam maupun non Islam. Baik masyarakat Tarakan maupun dari luar Tarakan.

Salah seorang keturunan Syarif Hamzah Al Marzaq yang masih hidup dan pernah menyaksikan keanehan nisan kuburan keramat tersebut yang sewaktu-waktu dapat bergeser. Biasanya dalam menyampaikan niatnya para pengunjung sambil duduk bersandar di dinding yang anehnya terkadang bisa bersandar dan terkadang tidak bisa. Keramat yang dimaksud adalah apabila pengunjung masuk posisinya berada disebelah kanan dan lokasinya tepatnya dibelakang kantor PT. Medco E & P di kelurahan Pamusian atau samping kiri Stadion Tenis Indoor Telaga Keramat Tarakan sekarang ini.

Jika ada yang penasaran dan ingin membuktikan keanehan ini silahkan berkunjung dan jangan melakukan hal-hal yang dianggap sirik oleh ajaran agama Islam.

Dikutif : "Sejarah mencatat Pulau Tarakan" Penulis M. YUNUS S.

KERAJAAN TARAKAN SUATU KENANGAN

Thursday, July 5, 2007    1 komentar:

Kawasan Kalimantan Timur bagian utara secara umum penduduk aslinya terdiri dari tiga jenis suku bangsa yakni : Tidung, Bulungan dan Dayak yang mewakili tiga kebudayaan yaitu Kebudayaan Pesisir, Kebudayaan Kesultanan dan Kebudayaan Pedalaman. Kaum suku Tidung umumnya terlihat banyak mendiami kawasan pantai dan pulau-pulau, ada juga sedikit ditepian sungi-sungai dipedalaman umumnya dalam radius muaranya. Kaum suku Bulungan kebanyakan berada dikawasan antara pedalaman dan pantai, terutama dikawasan Tanjung Palas dan Tanjung Selor. Sedangkan kaum suku Dayak kebanyakan mendiami kawasan Pedalaman. Kalangan suku Dayak yang terdengar dan Popular adalah bernama suku Dayak Kenyah. Suku Dayak memiliki banyak sub-suku bangsa mereka tersebar dikawasan pedalaman dan dan memiliki berbagai macam nama.

Adapun mengenai suku kaum Tidung, mata pencaharian andalannya adalah sebagai Nelayan, disamping itu juga bertani dan memanfaatkan hasil hutan. Berdasarkan dokumen dan informasi tertulis maupun lisan yang ada bahwa, tempo dulu dikawasan Kalimantan Timur belahan utara terdapat dua bentuk pemerintahan, yakni : Kerajaan dari kaum suku Tidung dan Kesultanan dari kaum suku Bulungan. Kerajaan dari kaum suku Tidung berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu, Sedangkan Kesultanan Bulungan berkedudukan di Tanjung Palas. Antara keduanya saling berhubungan erat, sebagaimana layaknya seperti orang bersaudara karena saling di ikat oleh tali Perkawinan. Meskipun demikian proses saling mempengaruhi tetap berjalan secara halus dan tersamar, karenasalah satu diantaranya ingin lebih dominant dari yang lainnya. Dengan Demikian tidak dapat dielakan bahwa, persaingan terselubung antara keduanya merupakan masalah latent yang adakalanya mencuat kepermukaan. Dalam hal ini pihak Belanda cukup jeli memanfaatkan masalah itu, maka semakin serulah hubungan keduanya, bahkan menjadi konflik politik yang tajam, sehingga akhirnya tergusurlah Kerajaan dari Suku kaum Tidung tersebut.

Sejarah kota Tarakan

Wednesday, April 4, 2007    1 komentar:


Kota Tarakan berdasarkan cerita rakyat berasal dari bahasa Tidung kuno yakni dari kata Tarak dan Ngakan, dalam bahasa Tidung Tarak mempunyai arti bertemu sedangkan Ngakan berarti Makan. Kata ngakan merupakan indikasi bahwa para nelayan dulu sering berisitirahat dan makan dipulau ini, yang menjadi tempat pertemuan para nelayan disekitar pulau ini seperti dari daerah Salim batu, tana lia, Pulau bunyu, Sesayap, Sembakung dan lain lain. Tarakan juga sebagai tempat bermuaranya tiga sungai besar diutara Kalimantan Timur seperti sungai Sesayap/Malinau, Sungai Kayan, dan Sungai Sembakung.
Tarakan juga disebut dengan istilah Tengkayu yang dari bahasa Tidungnya berarti daerah yang dikelilingi oleh laut atau Pesisir.

Pulau seluas 241,5 KM yang sebagian besar masih merupakan hutan lindung terutama dipesisir pantai wilayah selatan. Kondisi ini merupakan panorama alam yang indah antara hutan lindung, bukit, hutan konservasi, kelong nelayan, perkebunan, pantai dan peninggalan sejarah berupa tugu jepang dan tugu ostrali.

Menurut sejarah Tarakan pernah menjadi lokasi pertempuran sengit perang dunia ke 2 antara tentara jepang dengan tentara ostrali. Sebanyak 235 tentara ostrali tewas pada pertempuran itu. Di kota Tarakan masih terdapat banyak tugu peringatan tentara ostrali di lokasi yang sekarang menjadi sebuah kompleks militer. Tugu peringatan ini dibangun untuk mengenang tentara ostrali yang tewas dalam upaya membebaskan Tarakan dari pendudukan jepang. Dilokasi lainnya terdapat kuburan tentara jepang yang berada dibekas bunker jepang dikawasan perbukitan .

Obyek wisata di kota Tarakan antara lain Pantai Amal yang berjarak 11 KM dari pusat kota. Pantai ini memiliki panorama nyiur melambai dengan pemandangan yang cukup indah dan letaknya di kecamatan Tarakan Timur. Setiap dua taon sekali di Pantai Amal ini akan diselenggarakan Pesta Adat Tidung yakni "IRAW TENGKAYU".